pentingnya-inovasi-33-produk-ui-dilisensikan-rdz

Pentingnya Inovasi, 33 Produk Universitas Indonesia Dilisensikan

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) berkomitmen terus melakukan inovasi dalam mengembangkan pendidikan di Tanah Air. Inovasi yang dilakukan UI juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Hal itu terlihat ketika UI ikut berkontribusi mengatasi pandemi agar bisa cepat bangkit dan beradaptasi ke kehidupan baru. “Pentingnya dilakukan inovasi adalah agar bisa lebih cepat bangkit dan mengejar ketertinggalan akibat pandemi. Kita harus melakukan inovasi agar tetap maju,” kata Sekretaris Universitas, dr. Agustin Kusumayati, Rabu (15/2/2023).

Dalam kehidupan yang berubah sangat cepat ini, UI menjadikan inovasi sebagai hal yang diperhatikan. Dalam hal perubahan iklim, UI sudah melakukan kontribusi nyata yaitu membuat mobil listrik dengan menggunakan energi terbarukan. Bahkan nantinya UI akan membuat kereta listrik.

Di bidang, ekonomi digital sambung Agustin juga perlu dilakukan inovasi sehingga seluruh masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan teknologi. Tak kalah penting adalah inovasi di bidang pendidikan yang dilakukan UI yaitu membuat terobosan sistem pembelajaran menggunakan virtual realty (VR).

“Kemajuan teknologi saat ini sangat maju sehingga banyak memberikan dukungan untuk proses belajar. Dan ini sangat membantu dalam proses pembelajaran tentunya,” ujarnya. Direktur Inovasi dan Science Techno Park UI, Ahmad Gamal menambahkan, UI terus mengembangkan riset dan inovasi dari sejumlah fakultas yang ada. Hingga kini,UI terus berupaya menghasilkan produk inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat dan industri. Produk inovasi yang dihasilkan sangat bervariasi mulai produk alat kesehatan, makanan sehat, produk kecantikan, material maju, aplikasi teknologi informasi, serta produk layanan edukasi.

“Sebagian produk tersebut sudah dimanfaatkan publik melalui beberapa event internasional, seperti Bus Listrik Merah Putih buatan UI dan PT MAB yang digunakan dalam perhelatan G20 di Bali. Bus ini istimewa karena rancang bangun chassis-nya, sistem pendingin (air conditioner) dan sistem penggerak (motor listrik) dirancang dan dikonstruksi di Indonesia,” katanya.

Hingga saat ini ada 33 produk inovasi yang sudah dilisensikan kepada industri untuk diproduksi dan dikomersialkan serta masih beberapa sedang proses penjajakan.

Dari 33 produk tersebut, 20 di antaranya merupakan produk kesehatan, 7 rekayasa keteknikan, 3 inovasi bidang sosial humaniora, 2 dari bidang pangan, dan 1 bidang pertahanan dan keamanan.

Mitra-mitra yang sudah memproduksi produk inovasi UI tersebar di berbagai wilayah, yaitu 13 mitra di Jawa Barat, 6 mitra di DKI Jakarta, 3 mitra di Jawa Timur, 2 mitra di Jawa Tengah, dan 1 mitra di Banten. Beberapa produk yang sudah dilisensikan tersebut sudah menghasilkan royalti ratusan juta rupiah ke UI yang kemudian akan disalurkan kepada peneliti di tahun 2023 ini.

“Sebagai produk inovasi karya anak bangsa, beberapa produk sudah dikomersialkan melalui e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sebagai produk unggulan hasil inovasi Perguruan Tinggi,” ujarnya.

Beberapa produk yang sudah secara masif diproduksi dan digunakan di masyarakat di antaranya adalah Covent 20 (Ventilator Darurat), Swab Stick (Bahan Habis Pakai untuk tes PCR), Implan Mata, Propolis (suplemen Kesehatan dari bahan dasar madu), DBD Kit (alat deteksi cepat demam berdarah). UI juga melisensikan berbagai produk inovasi dalam bentuk jasa layanan edukasi.

Contohnya adalah UKMIndonesia.id sebagai layanan edukasi bagi usaha kecil dan menengah (UKM) dan dibimbing.id sebagai platform belajar daring. “Produk-produk ini telah dipasarkan secara massal dan rentang pendapatan masing-masing perusahaan sebagai dampak penjualannya berkisar antara Rp3 – 14 milyar untuk masing-masing produk,” pungkasnya.

01gphwhjevb8cef5byatdeh0hv

UI Beri Apresiasi Kemendikbud dan Kemenparekraf dalam Program Kedaireka

Universitas Indonesia (UI) memberikan apresiasi kepada pihak yang terlibat pada kegiatan Kedaireka, dalam acara bertajuk “Appreciation Day Program Matching Fund 2022,” pada Rabu, 11 Januari 2023.
ADVERTISEMENT

Salah satu yang mendapatkan penghargaan yakni Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, B.B.A., M.B.A., serta Menteri Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A.
Penghargaan diberikan langsung oleh Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, S.E., M.A., Ph.D. kepada Sandiaga Uno yang telah membantu menyukseskan program tersebut. Ajang ini merupakan kolaborasi Kemenparekraf dalam program Hibah Matching Fund Kedaireka yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi (Dirjen Dikti), Kemendikbudristek Tahun 2022.
Sementara penerimaan penghargaan kepada Nadiem diwakilkan oleh Prof. Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D., IPU, Asean Eng yang merupakan Plt Dirjen Dikti.
UI dan Kemenparekraf berhasil menjalankan program pengembangan desa wisata berkelas dunia (world class dewi) melalui implementasi cleanliness, health, safety, and environment (CHSE) serta mitigasi bencana.
ADVERTISEMENT

Tujuan program ini adalah melakukan identifikasi risiko CHSE dan bencana serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di desa wisata melalui penerapan karya rekacipta dosen, alumni, dan mahasiswa bersama Kemenparekraf. Kegiatan yang merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ini dapat dikonversi ke 20 satuan kredit semester (SKS) bagi mahasiswa yang mengikutinya.
“Di Desa Wisata Situs Gunung Padang, kita telah memberikan pelatihan CHSE dan saat gempa kemarin, saya mendapat kabar dari Pak Kades, bahwa hanya terjadi kerusakan kecil di gerbang wisata dan tidak ada korban jiwa. Kesiapsiagaan ini tentunya harus kita kolaborasikan dengan UI yang memiliki segudang mahasiswa dan peneliti terbaik untuk meningkatkan ketahanan destinasi wisata di Indonesia,” kata Sandiaga Uno, Rabu (11/1/2023).

Program Kedaireka UI–Kemenparekraf telah terlaksana dengan baik. Hal ini terbukti dari identifikasi risiko CHSE dan mitigasi bencana yang telah dilaksanakan di 58 desa wisata. Kegiatan verifikasi lapangan pelatihan CHSE dan mitigasi bencana juga telah dilakukan di delapan provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Barat.
Dalam kegiatan tersebut, dilakukan pula analisis dampak bencana di lima lokasi pariwisata, serta implementasi manajemen krisis dan tata kelola destinasi di beberapa daerah. Selain itu, saat ini sudah tersedia 20 modul dan 20 video e-learning di platform Edurisk. UI dan Kemenparekraf juga telah meluncurkan Sistem Informasi Desa Wisata (SideWita), Panic Button DeWita, dan VTTX DeWita yang dapat diakses oleh masyarakat Indonesia.

Menurut Prof. Ari, pariwisata merupakan salah satu sektor yang mendukung percepatan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Hal ini karena pariwisata mendorong masyarakat untuk melakukan mobilisasi ke daerah-daerah lain. Desa Wisata yang gerakkan oleh UI dan Kemenparekraf diharapkan dapat menjadi roda penggerak ekonomi dan pemulihan aktivitas pariwisata pasca pandemi. Program Kedaireka dari Kemendikbudristek mewujudkan kemudahan sinergi antara perguruan tinggi dan mitra dalam satu platform.
“Melalui Program Matching Fund Kedaireka, UI khususnya dosen-dosen K3 FKM UI dapat bersinergi dengan Kemenparekraf dalam meningkatkan Desa Wisata berkelas dunia melalui implementasi CHSE dan Mitigasi Bencana. Kegiatan ini menjadi bagian dari pelaksanaan MBKM yang diikuti lebih dari 100 mahasiswa S1, S2, dan S3, serta alumni, praktisi dari pelbagai berbagai fakultas dan multidisiplin. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi sehingga dapat diciptakannya pelbagai inovasi dan teknologi CHSE dan mitigasi bencana yang merupakan mahakarya dari kolaborasi ini,” kata Prof. Ari.

Sependapat dengan Prof. Ari, Sandiaga Uno menyebutkan peningkatan mobilitas masyarakat terjadi karena tepatnya penanganan pandemi di Indonesia. Pada 2022, pariwisata Indonesia telah mencapai “pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat”. Meski demikian, potensi pariwisata di Indonesia berbanding lurus dengan nature dan culture. Indonesia memiliki pariwisata yang indah sekaligus potensi kebencanaan yang tinggi. Untuk itu, diperlukan langkah mitigasi dan solusi konkret yang bisa dikolaborasikan bersama.
Pada kesempatan yang sama, UI juga memberikan apresiasi kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim, B.A., M.B.A., sebagai Inisiator dalam Program Kedaireka, yang pada kesempatan itu diwakili oleh Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi, Kemendikbudristek, Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, Asean Eng. Prof.

Nizam dalam sambutannya menyampaikan bahwa transformasi pendidikan tinggi yang dilakukan Kemendikbudristek sering disalahmaknai sebagai vokasionalisasi Perguruan Tinggi yang berorientasi jangka pendek terhadap fungsi pendidikan. Padahal, menurutnya, transformasi ini justru untuk mengawinkan antara kampus pendidikan dengan kampus kehidupan. Kampus harus memahami apa yang dibutuhkan oleh masyarakat melalui hilirisasi dan huluisasi.
“Hilirisasi berarti merancang sejak awal riset dan inovasi yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat, sementara huluisasi adalah kerja secara langsung untuk membantu masyarakat, misalnya di bidang kesehatan, pemberdayaan, dan pengelolaan lingkungan. Dosen dan mahasiswa harus mampu menjahit program-program tersebut agar terjadi akselerasi terciptanya konorsium di bidang electric vehicle, kelautan, pertanian, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Oleh karena itu, sinergi kita bersama diperlukan untuk membuat masyarakat dan bangsa ini semakin maju,” ujar Prof. Nizam.

Kepala DRRC UI, Prof. dra. Fatma Lestari, M.Si, Ph.D., berterima kasih kepada Prof. Nizam atas diluncurkannya program ini sehingga diharapkan memperkuat dan meningkatkan kualitas desa wisata berkelas dunia. “Edukasi ini juga mendukung pemulihan ekonomi nasional agar dapat bersaing di tingkat global. UI telah mengembangkan Edurisk, yaitu platform edukasi risiko yang telah terdaftar HAKI. Sistem informasi desa wisata telah dikembangkan dan terintegrasi dengan sistem informasi pariwisata nasional sehingga diharapkan bisa menjadi media monitoring dan evaluasi,” kata Prof. Fatma.
Selain apresiasi kepada Kemendikburistek dan Kemenparekraf, penghargaan juga diberikan kepada 9 Tim Pengusul, 10 Narasumber, 16 Fasilitator, 9 Asisten Fasilitator, dan 50 Mahasiswa yang berkontribusi secara langsung dalam kesuksesan program ini. Penghargaan diberikan oleh Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi, drg. Nurtami, Ph.D., Sp,OF(K); Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Prof. dr. Mondastri Korib Sudaryo, M.S., D.Sc.; dan Prof. Fatma.

Apresiasi juga diberikan kepada Koordinator Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf, Danesta Febianto Nugroho, S.St. Par., M.A., M.E.; Direktur Tata Kelola Destinasi, Indra Ni Tua, S.T. M.Comm.; Inspektur II, Kemenparekraf/Baparekraf, Kamal Rimosan, S.H.; Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, Dr. Ayu Dewi Hendriyani; dan Staff Ahli Bidang Manajemen Krisis, Fadjar Hutomo, S.T., MMT., CFP.